CANDI BOROBUDUR

Bagi orang Indonesia, nama Candi Borobudur sudah pasti tidak menjadi sesuatu yang asing di telinga. Namun, tidak semua memahami fakta sejarah serta bagaimana Borobudur tersebut dibangun. Oleh karena itulah, berikut ini kami hadirkan untuk piknikers mengenai deskripsi Candi Borobudur yang mana banyak mengandung filosofi kehidupan.

Dibangun pada abad ke-8, Candi Borobudur sempat terlupakan karena tertimbun abu vulkanik akibat letusan gunung Merapi. Namun, pada akhirnya candi kolosal yang dibangun pada Wangsa Syailendra ini kembali ditemukan dan oleh Sir Thomas Raffles pada masa kolonialisme dan kembali memegahkan diri pada tahun 1835.

Konon penemuan Candi Borobudur ini menggemparkan dunia, yang kemudian hingga masa kemerdekaan, Borobudur mendapatkan banyak perhatian dunia termasuk oleh UNESCO yang kemudian didaftarkan sebagai situs warisan dunia. Sebagai dampaknya, tak sedikit pemugaran yang dilakukan atas biaya asing.

Megahnya Candi Borobudur mengambil inspirasi dari gaya Mandala yang merupakan simbolisasi alam semesta menurut agama Budha. Deskripsi Candi Borobudur seperti struktur bangunan yang kotak dengan empat pintu masuk di keempat sisinya, serta lingkaran di tengahnya memberikan gambaran sebagai alam semesta.

Bagian yang tampak dalam deskripsi Candi Borobudur tersebut menyimbolkan alam nirwana sebagai pusatnya serta tiga bagian luar yang menyimbolkan alam duniawi. Ketiga alam duniawi tersebut adalah Kamadathu, Rupadathu dan yang paling dalam adalah Arupadathu.

Deskripsi Candi Borobudur di area Kamadathu, terdapat 160 relief yang menjelaskan tentang Karmawibhangga Sutra yang merupakan hukum sebab akibat. Dalam relief ini menggambarkan alam duniawi dengan segala sifat dan nafsu manusia yang menggambarkan tentang merampok, memperkosa, membunuh, penyiksaan dan lainnya.

Pada tingkatan selanjutnya, yakni Rupadhatu terdapat 328 patung Buddha dengan hiasan relief, juga terdapat manuskrip Sansekerta yang terdiri dari 1300 relief. Dalam relief tersebut dikisahkan Gandhawayuha, Lalitawistara, Jataka dan Awadana. Semuanya itu terbentang sepanjang 2,5 KM dalam 1212 panel.

Dalam tingkatan Rupadhatu yang ada dalam deskripsi Candi Borobudur, menceritakan tentang alam peralihan manusia yang membebaskan manusia dari urusan keduniawian. Dan yang terakhir yakni Arupadhatu merupakan simbol dari kebangkitan dunia. Disini menggambarkan alam tertinggi yakni kediaman Tuhan.

Tidak akan ditemukan hiasan atau relief disini, pasalnya tingkatan ini menampilkan kesempuranan dan juga kemurnian. Terdapat patung Budha yang menghadap keluar candi serta 72 stupa secara keseluruhan. Perdebatan terjadi pada stupa di tingkat tertinggi yang mana stupa tersebut kosong.

Beberapa pihak menyampaikan jika stupa tersebut memang kosong ada juga mengatakan kosong karena dicuri. Hingga kini belum diketahui mengenai fakta kebenarannya. Namun, bukti bukti bahwa adanya pencurian di Borobudur memang ada sehingga tidak heran banyak yang mencurigai atas kekosongan.

Nah itulah beberapa tentang deskripsi Candi Borobudur yang bisa piknikers pahami. Jangan lupa ketika mengunjungi Candi Borobudur piknikers sebaiknya menyewa guide. Menyewa jasa Guide ini memang tidak wajib, karena memang mungkin ada diantara anda yang sudah memahami tentang seluk beluk dari Candi Borobudur ini.

Jika belum maka bantuan jasa dari Guide bisa memberikan deskripsi Candi Borobudur mulai dari sejarah pembangunannya, makna filosofis dari setiap bangunannya. Bagaimana apakah piknikers tertarik untuk menyaksikan sendiri kemegahan dari Candi Borobudur?

Segera yuk kunjungi saat liburan agar semakin bertambah wawasan kita tentang deskripsi Candi Borobudur.

CANDI BOKO

Penemuan dari sejarah Candi Ratu Boko ini dimulai oleh orang Belanda bernama H.J. De Graff. Beliau pada saat itu (sekitar abad ke 17) mendapat informasi dari orang orang Eropa yang berkunjung ke Jawa bahwa ada peninggalan sejarah yang menarik di Bokoharjo. Mereka mengatakan bahwa ada reruntuhan keraton atau istana yang terletak di Bokoharjo tersebut.

Nama Candi Ratu Boko diambil dari nama seorang raja Mataram bernama Ratu Boko. Candi ini diyakini merupakan reruntuhan istana atau keraton Ratu Boko. Raja Ratu Boko ini diyakini pula sebagai ayah dari Roro Jonggrang yang kita kenal dalam legenda populer Roro Jonggrang. Bila kita melihat sejarah Mataram Kuno pada abad ke delapan, Ratu Boko telah dipergunakan oleh dinasti Syailendra jauh sebelum Raja Samaratungga (yang merupakan pendiri Borobudur) dan Rakai Pikatan (yang membangun Prambanan).

Keturunan dinasti Syailendra yang telah memakai Ratu Boko saat itu adalah Rakai Panangkaran. Meski begitu, ada kisah lain yang cukup terkenal yakni kisah Prabu Boko yang menerangkan bahwa reruntuhan bangunan keraton ini telah ada saat masuknya agama Hindu ke tanah Jawa. Kisah ini cukup populer di kalangan cerita rakyat kuno Jawa.

Sumber lainnya yang menerangkan tentang sejarah Candi Ratu Boko adalah Prasasti Abhayagiri Wihara tahun 792. Prasasti ini ditemukan di lokasi Candi Ratu Boko. Dalam prasasti Abhayagiri Wihara ini disebutkan bahwa ada seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau dikenal sebagai Rajai Panangkaran dan bangunan wihara di atas bukit yang bernama Abhyagiri Wihara. Abhyagiri Wihara sendiri memiliki arti biara di bukit yang bebas dari bahaya.

Dikasisahkan bahwa Raja Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja pada saat itu untuk mencari ketenangan batin dan memfokuskan diri pada masalah keagamaan. Salah satu caranya adalah dengan membangun wihara yang dinamakan Abhayagiri Wihara di tahun 792. Diketahui bahwa Rakai Panangkaran bergama Budha dan Wihara tersebut digunakan sebagai tempat ibadah agama Budha. Dapat dilihat pula warisan corak Budha di Candi Ratu Boko dengan adanya Arca Dyani Budha. Meski begitu, terdapat pula corak agama Hindi di Candi Ratu Boko seperti Arca Durga, Ganesha dan Yoni.

CANDI PRAMBANAN

Salah satu candi yang terkenal di tanah air kita tercinta adalah Candi Prambanan. Candi yang merupakan candi bagi umat Hindu ini memiliki gaya arsitektural yang berbeda dengan Candi Borobudur. Namun tentu saja, Wisata Candi Prambanan tidak kalah keindahannya dibanding Candi Borobudur maupun candi Angkor Wat.

Candi Prambanan terletak di desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Jogjakarta. Berbeda dengan sejarah asli Candi Prambanan, nama dari candi ini sudah melegenda lewat kisah cinta tak sampai antara Bandung Bandawasa dan Rara Jongrang.

Konon menurut legenda, Rara Jonggrang meminta seribu candi dalam satu malam sebagai syarat lamaran Bandung Bandawasa. Melalu bantuan mahluk jin, Bandung Bandawasa mampu menyelesaikan seribu candi yang pada akhirnya digagalkan sendiri oleh Rara Jonggrang.

Mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh Rara Jonggrang tersebut, Bandung Bandawasa pun marah dan mengutuk Rara Jonggrang menjadi arca terakhir dari seribu candi yang dia bangun dalam satu malam tersebut. Maka munculah sosok patung perempuan dalam salah satu arca Candi Prambanan.

Kisah tersebut adalah legenda yang dekat dengan Wisata Candi Prambanan, namun untuk sejarah asli Candi Prambanan sangat berbeda. Candi Prambanan dibangun oleh Rakai Pikatan yang saat itu adalah Raja dari Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya. Pembangunannya sendiri dimulai pada tahun 850, yang mana dekat dengan waktu pembangunan Borobudur.

Menurut beberapa sumber yang terangkum dalam sejarah asli Candi Prambanan, pembangunan Candi Prambanan ini adalah untuk menandingi pembangunan Borobodur kala itu. Ditambahkan menurut Prasasti Shivarga, pembangunan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Siwa yang merupakan dewa tertinggi umat Hindu.

Namun, kejayaan Candi Prambanan pun sirna ketika pada akhirnya Mpu Sindok, Raja terakhir Mataram kuno dari Wangsa Sanjaya memindahkan pusat kerajaannya ke daerah Jawa Timur. Akibatnya, bangunan yang dipelopori oleh pendahlunya tersebut sepi ditinggalkan.

Dari sejarah asli Candi Prambanan tersebut, kejadian serupa pun juga akhirnya menimpa Candi Borobudur yang juga sempat terlupakan karena terkubur abu Gunung Merapi dan tertutup oleh semak-semak sampai Gubernur Rafles dari Belanda menemukannya kembali. Namun berbeda dengan Borobudur, Candi Prambanan tidak terkubur.

Ditilik dari sejarah asli Candi Prambanan, patung yang konon disebut sebagai patung Rara Jonggrang tersebut sebenarnya adalah patung dari Dewi Durga Mahisasuramardhani yang menurut mitos juga dipercaya sebagai jelmaan dari Rara Jonggrang. Karena ituah, salah satu dari Candi Siwa yang berada di Prambanan disebut sebagai Candi Rara Jonggraing.

Sama seperti Candi Borobudur, dari sejarah asli Candi Prambanan diketahui juga bahwa Candi Prambanan mengambil banyak Kosmologi Hindu, terutama dewa dewa yang disimbolkan berada dalam setiap candi, termasuk Candi Rara Jonggrang itu sendiri.

Terdapat tiga bagian utama dari Candi Prambanan ini yakni Plataran Njobo, Plataran Tengahan dan Plataran Njero. Tiga candi utama yang menyimbolkan tiga dewa utama dalam Agama Hindu berada di Plataran Njero yang mana menyimbolkan tempat kehidupan dimana dewa-dewi tinggal atau yang dikenal sebagai Svargaloka.

Nah itulah sekilas tentang sejarah asli Candi Prambanan yang terdapat dua sisi didalamnya yakni sisi sejarah yang memukau serta sisi mitos cerita yang menarik untuk diceritakan. Namun, terlepas dari hal tersebut, Candi Prambanan memang menjadi salah satu objek wisata di Jogjakarta yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung.

Terkadang, di pelataran Candi Prambanan juga sering diadakan pagelaran tari Ramayana yang kisahnya juga termuat dalam gambaran Candi Prambanan. Memang sejarah asli Candi Prambanan ini tidak boleh terlupakan oleh bangsa kita.

CANDI IJO

Piknikers mungkin sudah sering mendengar Candi Borobudur, Prambanan, dan candi Ratu Boko. Sejatinya, masih banyak candi-candi yang belum terekspos meski memiliki potensi wisata yang juga cukup menarik, Candi Ijo salah satunya. Terletak di ketinggian 375 meter di atas permukaan laut (Mdpl), Candi Ijo merupakan candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta. Dari ketinggian itu, sudah terbayang keindahan panorama perbukitan. Disebut Candi Ijo karena candi yang dibangun sekitar abad ke-9 itu dibangun di sebuah bukit yang dikenal Bukit Hijau atau Gumuk Ijo. Penyebutan nama desa Ijo pertama kalinya disebut di dalam Prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi. Dalam prasati tersebut ditulis tentang seorang hadirin upacara yang berasal dari desa Wuang Hijau. Jika benar demikian maka nama Ijo setidaknya telah berumur 1100 tahun hingga tahun 2006 yang lalu.
Kompleks candi Ijo merupakan kompleks percandian yang berteras-teras yang semakin meninggi ke belakang yakni sisi timur dengan bagian belakang sebagai pusat percandian.

Teras pertama merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur.
Sedangkan bangunan pada teras teratas berupa pagar keliling dan delapan buah lingga patok. Di teras terakhir ini pula candi utama berdiri lengkap dengan tiga candi perwara.

Pada candi utama terdapat sebuah bilik dengan Lingga Yoni yang melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati. Sedangkan di dalam candi-candi perwara, pengunjung dapat melihat arca candi yang konon merupakan kendaraan Dewa Siwa dan meja batu atau disebut padmasana.
Ragam bentuk seni rupa juga dapat dijumpai di kompleks Candi Ijo. Salah satunya ukiran kala makara dengan motif kepala ganda dan beberapa atributnya.

Bagi pengagum wisata sejarah, di candi ini juga dapat ditemui karya yang masih menyimpan misteri yang tercantum pada sebuah prasasti. Prasasti itu terletak pada teras ke-9 yang bertulisan Guywan atau Bhuyutan yang berarti pertapaan.
Prasasti lainnya yang terbuat dari batu berukuran 14 cm dan tebal 9 cm tercantum mantra-matra yang diperkirakan berisi kutukan “Om sarwwawinasa, sarwwawinasa” yang bertulis berulang hingga 16 kali. Hingga kini masih belum terkuak peristiwa apa yang berhubungan dengan prasasti tersebut. Sementara, bagi penyuka wisata alam, candi merupakan tempat yang direkomendasikan.

Dari segala penjuru mata angin, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam Yogyakarta lengkap dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Jika beruntung, pengunjung dapat melihat pemandangan pesawat terbang yang sedang ‘landing’ di landasan Bandara Adisutjipto di sebelah barat. Panorama sunset juga menjadi magnet tersendiri bagi pelancong untuk kembali mengunjungi Candi Ijo.

TAMAN SARI

Jogja selalu istimewa, itulah sebutan bagi mereka yang baru saja mengunjungi Jogja sebagai salah satu kota wisata populer di Indonesia. Keistimewaan Jogja bukan hanya dari statusnya saja yang merupakan satu-satunya daerah istimewa di Indonesia, melainkan juga dari kultur serta budaya didalamnya serta peninggalan yang masih terjaga hingga kini seperti Wisata Taman Sari Jogja.
Wisata Taman Sari Jogja ini terletak 2 KM ke arah selatan dari Keraton Jogjakarta. Itulah mengapa lokasi wisata di tengah Kota Jogjakarta ini menjadi salah satu tempat wisata yang harus dikunjungi saat berkunjung ke Kota yang masih memiliki sistem kerajaan ini. Tepatnya, Taman Sari terletak di Jalan Ngasem, Jogjakarta.

Ada banyak alasan mengapa Wisata Taman Sari Jogja ini terbilang unik. Yang pertama adalah karena bangunannya yang klasik yang masih terjaga keasliannya hingga sekarang. Bangunannya ini dibangun pada abad ke 18 oleh Tumenggung Mangundipura. Sedangkan untuk fungsi dari Taman Sari ini awalnya untuk tempat beristirahat, meditasi, pertahanan serta tempat persembunyian.
Keunikan bangunan dari Wisata Taman Sari Jogja ini adalah bangunannya yang meski dibangun di Jawa di era Kesultanan Jawa namun terdapat sedikit kemiripan dengan arsitektur Eropa.
Hal ini disebabkan karena sebelum pembangunan, arsitek Taman Sari yakni Tumenggung Mangundipura diperintahkan untuk pergi ke Batavia oleh Sultan Hamengkubuwana I, Sultan pertama dari Keraton Jogjakarta.
Setelah kembali dari Batavia, Tumenggung Mangundipura menyelesaikan Taman Sari dengan terdiri dari 59 bangunan yang termasuk dengan Masjid, ruang meditasi atau semedi, kolam renang dan beberapa taman air didalamnya. Bangunan yang ada didalamnya menyimbolkan sebuah bunga mulai dari kelopak hingga inti dari bunganya.
Nah, keunikan yang kedua adalah di lokasi Wisata Taman Sari Jogja ini ternyata tidak sepi dari penduduk. Disekitar bangunan yang menjadi cagar budaya, terdapat baik bangunan modern maupun bangunan kuno yang ditinggali oleh warga Jogja.
Selain dikelola oleh pihak Keraton Jogjakarta selaku pemerintah daerah, warga sekitar juga memanfaatkan lokasi wisata ini.
Warga memanfaatkan keberadaan Wisata Taman Sari Jogja sebagai daya tari untuk penjualan oleh oleh seperti batik dan berbagai barang dagangan lainnya yang dijajakan.
Keberadaan warga di sekitar Taman Sari ini memang tidak terlepas dari sejarah yang mana dulu banyak merupakan Abdi Dalem Keraton atau merupakan pekerja dalam Keraton.
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya mengenai keunikan bangunan abad ke 18, Wisata Taman Sari Jogja memiliki beberapa spot atau titik kunjungan utama yakni yang pertama adalah Istana Air.
Di lokasi tersebut terdapat sebuah kolam besar di tengahnya. Konon Istana Air ini pada jaman kerajaan dulu digunakan sebagai tempat mandi putri raja atau dayang dayang raja.
Selain kolam di Istana Air, beberapa titik kunjungan Wisata Taman Sari Jogja ada pada lokasi seperti ruang meditasi, Masjid yang terkadang juga masih digunakan untuk sembahyang, hingga beberapa lokasi lainnya seperti bagian atap istana yang masih bisa dikunjungi namun juga terkadang ditutup karena bertambahnya usia bangunan.
Sebagai sebuah lokasi wisata, Wisata Taman Sari Jogja ini mudah diakses ketika mengunjungi Jogja. Manajemen yang ada didalamnya pun memudahkan pengunjung untuk datang melihat kekayaan budaya dan arsitektur yang ada didalamnya. Tidak heran jika Taman Sari Jogja ini menjadi rekomendasi wajib untuk para turis dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke wilayah Jogja.

GEREJA AYAM

Bangunan rumah doa di Bukit Rhema Borobudur itu memiliki sejarah panjang. Sejak dibangun oleh pemiliknya, Daniel Alamsjah (74), tahun 1992 lalu. Putra ketujuh Daniel, William Wenas (36) berbagi cerita kepada kami beberapa waktu lalu.

Berawal dari tahun 1988 lalu, Daniel yang merupakan karyawan dari sebuah perusahaan swasta di Jakarta memperoleh mimpi yang aneh. Dirinya diminta membangun sebuah rumah doa di perbukitan asing yang belum pernah dikunjunginya. Mimpi itu tak hanya berlangsung sekali, namun hingga beberapa kali. Sampai akhirnya pada tahun 1988 Daniel pergi berwisata mengunjungi kawasan Borobudur.

“Suatu ketika papa berpapasan dengan pemuda setempat bernama Jito yang juga penyandang disabilitas. Dia tidak bisa berbicara atau tuna wicara,” terang William. Daniel sempat berkomunikasi dengan Jito yang ternyata hendak mengambil kayu di sebuah bukit di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Pria asal Lampung itu pun kemudian mengikuti Jito dan sampai di bukit yang ternyata sama dengan bukit di dalam mimpi. Akhirnya Daniel memutuskan berdoa semalam suntuk di bukit itu hingga dirinya mendapatkan semacam wahyu untuk membangun rumah doa. Perbukitan tempat membangun rumah doa itu sendiri kemudian dinamai Daniel dengan nama Bukit Rhema yang bagi umat Kristiani berati firman yang hidup.

“Dulu nama bukitnya apa saya kurang tahu, tapi sekarang jadi dikenal dengan nama Bukit Rhema,” kata William. Daniel kemudian memantapkan diri untuk membangun rumah doa meski dirinya hanya seorang karyawan di Jakarta. Bentuk bangunan itu dibuat menyerupai burung merpati yang merupakan simbol perdamaian dan roh kudus. Tahun 1992, rumah doa mulai dibangun. Lalu pada tahun 1996 proses pembangunan sempat terhenti karena krisis moneter. Bangunan rumah doa ini sempat dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat ibadah. Penggunaannya mulai dari tempat panti rehabilitasi bagi anak-anak yang kekurangan fisik, orang ketergantungan narkoba, orang kurang waras, dan anak muda yang memiliki masalah.
Beberapa tahun lalu, Gereja Ayam sempat ditutup karena penolakan oleh warga. Namun bangunan rumah doa ini akhirnya kembali dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 2014. “Konsep wisata yang kita usung adalah wisata religi, wisata alam, wisata edukasi, dan lainnya,” ungkap William.

GOA PINDUL

Goa Pindul adalah sebuah goa yang sangat unik, dimana di dalam goa ini terdapat sebuah sungai yang melintas disepanjang goa tersebut. Aktivitas yang umumnya dilakukan di wisata ini adalah cave tubing. Cave tubing adalah aktifitas menyusuri sungai yang ada di dalam goa dengan menggunakan sebuah ban pelampung. cave tubing sebenarnya hampir mirip dengan rafting. Hanya saja yang membedakan keduanya adalah, rafting biasanya dilakukan di aliran air sungai yang deras. Sedangkan cave tubing dilakukan di aliran sungai yang tenang.

Goa Pindul Jogja memiliki panjang 350 meter dengan lebar 5 meter. Terdapat tiga zona yang harus dilalui ketika melintas di Goa Pindul, yaitu zona terang, zona gelap, dan zona remang. Zona terang terdapat di area start ketika hendak memasuki goa. Zona remang berada di beberapa meter setelah memasuki pintu goa. Dan Zona Gelap berada di tengah tengah dalam goa Pindul.

Tepat di tengah tengah goa terdapat ruang yang cukup besar, dan uniknya diatas ruang tersebut terdapat sebuah lobang, yang biasanya digunakan sebagai jalur pintu masuk vertikal oleh TIM SAR . Dari lobang ini sinar matahari dapat masuk menyinari ke dalam goa. Sehingga menjadikan pemandangan di dalam Goa menjadi sangat luar biasa indah.
Setiap pengunjung yang menyusuri Goa Pindul dengan menggunakan pelampung, akan menjumpai stalagtit yang sangat besar. Ukuran dari stalagtit tersebut mencapai 5 rentangan tangan orang dewasa. Konon katanya, air yang menetes dari staglagtit ini dapat menjadikan cantik dan awet muda. Sedangkan untuk pria, air yang menetes tersebut dapat meningkatakan vitalitas pria.
Kisah Goa Pindul ini di awali orang orang pada zaman dahulu yang bernama Ki Ageng Pemanahan dan Ki juru Mertani. Keduanya mendapatkan tugas untuk membunuh bayi yang diperintahkan oleh Panembahan Senopati Mataram. bayi tersebut adalah anak dari Puteri Penembahan Senopati.
Ki Ageng dan Juru Mertani memutuskan untuk melanggar perintah Panembahan Senopati, yaitu enggan untuk membunuh sang bayi. Kedua orang tersebut memutuskan untuk mengembara ke arah timur sambil membawa sang bayi, tepatnya di sebuah puncak bukit. Karena kedua orang tersebut mempunyai kesaktian yang sangat luar biasa, bukit yang di daki nya pun runtuh hingga menyisakan lubang yang cukup besar yang di bawahnya terdapat air sungai yang mengalir.
Sang bayi mungil yang diperintahkan untuk dibunuh oleh Panembahan Senopati dimandikan oleh Ki Ageng dan Ki Juru Mertani di aliran sungai di bawah Lobang bukit tersebut.
Ketika proses memandikan sang bayi, pipi sang bayi terbentur dinding goa hingga benjol. Dalam bahasa Jawa, Benjol berarti “Pindul”. Hal itulah yang melatar belakangi asal mula nama Goa Pindul.

LAWANG SEWU

Lawang Sewu mulai dibangun oleh Belanda pada 27 Februari 1904 dan rampung pada tahun 1907. Pada awalnya gedung ini berfungsi sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta milik Belanda dengan nama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappj atau disingkat NIS. Perusahaan inilah yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang, Surakarta dan Yogyakarta. Jalur pertama yang dibangun adalah Semarang Temanggung pada tahun 1867.
Direksi NIS memercayakan perancangan gedung kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag. Keduanya berdomisili di Amsterdam.Semua proses perancangan bangunan dilakukan di Belanda. Setelah rancangan selesai, gambar-gambar rancangan tersebut kemudian dibawa ke Kota Semarang.

Kantor pusat NIS tersebut adalah sebuah bangunan besar dua lantai dengan bentuk menyerupai huruf “L”. Pembangunan kantor pusat NIS di Semarang karena adanya kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan banyak bangunan untuk publik dan perumahan akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi kolonial dan pertumbuhan usaha swasta.
Pada awalnya kegiatan perkantoran perusahaan kereta api milik Belanda berpusat di sini. Namun karena berkembangnya jaringan perkeretaapian yang demikian pesat pada saat itu menuntut terus ditambahnya personil teknis dan tenaga administrasi untuk mengikuti bisa mengikuti perkembangan.
Hal ini membuat kantor NIS di Semarang tidak lagi memadai untuk menampung semua staf NIS. Berbagai jalan sudah ditempuh seperti misalnya menyewa sejumlah bangunan milik perseorangan untuk solusi sementara justru membuat pekerjaan makin tidak efisien. Belum lagi letak Stasiun Semarang NIS dekat dengan rawa membuat hal-hal seperti kebersihan dan kesehatan menjadi pertimbangan penting.
Maka diusulkanlah pilihan lain, yakni membangun kantor administrasi untuk pegawai NIS di lokasi yang baru. Pilihan jatuh pada sebidang tanah yang berada di pinggir kota dekat dengan kediaman Residen Hindia Belanda. Lokasi tepatnya berada di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Jalan Pemuda dan jalan raya menuju Kendal.
Lawang Sewu menjadi saksi bisu dari kelamnya masa penjajahan Belanda. Setelah ditinggal oleh NIS, bangunan ini sering difungsikan oleh penjajah Belanda dan Jepang sebagai penjara. Beberapa ruangan di bangunan ini bahkan disulap menjadi ruang tahanan yang menyiksa. Namanya saja sudah bisa membuat bulu kuduk berdiri, yakni Penjara Jongkok, Penjara Berdiri dan Ruang Penyiksaan. Berikut fungsi dari masing-masing ruangan:
Ruang Penjara Berdiri pada awalnya digunakan sebagai lokasi penampungan tahanan. Tahanan yang tertangkap dimasukkan ke dalam ruangan tersebut dalam kondisi yang berdesak-desakan. Hal ini memaksa mereka untuk selalu berdiri karena apabila mereka duduk, ruangan penjara akan terasa lebih sempit dan menyiksa. Tak sedikit dari para tahanan ini meninggal di ruangan ini karena kelelahan atau kekurangan oksigen.
Penjara Jongkok lebih parah lagi. Berbeda dengan ruangan Penjara Berdiri, tahanan yang dimasukkan ke ruang Penjara Jongkok dipaksa untuk berdesak-desakan dalam keadaan berjongkok karena tinggi ruangan tak sampai satu setengah meter. Bisa dibayangkan seperti apa penderitaan para tahanan yang dimasukkan ke dalam ruangan ini.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Lawang Sewu menjadi saksi mata ketika berlangsungnya peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai dari tentara Jepang. Karena itulah Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor 650/50/1992 memutuskan bahwa Lawang Sewu dimasukkan dalam 102 bangunan kuno bersejarah di Kota Semarang yang wajib dilindungi.
Lawang Sewu juga pernah digunakan sebagai kantor dari Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia atau yang sekarang dikenal sebagai PT. Kereta Api Indonesia. Meski pihak militer pemerintah Indonesia sempat mengambil alih gedung ini, saat ini kepengurusan Lawang Sewu kembali ke tangan PT. KAI.
Tak heran bila melihat sejarah kelam yang dimiliki Lawang Sewu membuat bangunan ini memiliki seribu cerita dengan unsur mistis. Mulai dari penggunaan Lawang Sewu sebagai penjara dan ruang penyiksaan tahanan, hingga pertempuran antara pejuang dan penjajah Jepang yang menewaskan banyak korban jiwa membuat warga Semarang banyak menemui kejadian-kejadian mistis ketika mengunjungi Lawang Sewu di siang atau malam hari.
Selain itu tak terurusnya bangunan Lawang Sewu kala itu makin menambah suramnya suasana Lawang Sewu. Lantai yang kotor, cat dinding yang terkelupas serta kurangnya penerangan membuat bulu kuduk orang yang mengunjungi gedung ini berdiri.
Sekian lama tak terurus, PT. KAI selaku pemilik bangunan Lawang Sewu melihat perlunya pemugaran bangunan. Hal ini dirasa penting karena nilai sejarah Lawang Sewu sangatlah tinggi maka dari itu bangunan ini perlu dilestarikan agar tak usang digerus jaman.
Setelah memakan waktu cukup lama, proses pemugaran selesai pada bulan Juni 2011 dan kembali dibuka untuk masyarakat umum pada tanggal 5 Juli 2011. Pembukaan Lawang Sewu ini diresmikan oleh Ibu Ani Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan dengan acara Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk tradisional dari seluruh Nusantara.
Lawang Sewu kini tampil cantik seperti saat digunakan oleh NIS dulu. Tidak ada lagi lantai yang kotor dan cat yang terkelupas. Yang kita temui hanyalah bangunan megah dengan arsitektur unik bergaya Belanda dilengkapi dengan taman-taman yang indah. Hal inilah yang membuat Lawang Sewu kini ramai dikunjungi oleh warga, bahkan banyak pasangan muda-mudi yang berfoto di sini atau menjadikannya lokasi foto pre-wedding.
Bila piknikers ingin mengunjungi Lawang Sewu, piknikers bisa langsung datang ke Kota Semarang di Propinsi Jawa Tengah. Lokasi Lawang Sewu terdapat di sebelah timur Tugu Muda Semarang. Lokasi tepatnya adalah di pertemuan antara Jalan Pandanaran dan Jalan Pemuda. Rute untuk menuju lokasi Lawang Sewu sangatlah gampang. Bila menaiki kendaraan pribadi atau kendaraan umum, carilah arah atau angkot menuju Simpang Lima dan piknikers akan menemui gedung Lawang Sewu.

CANDI GEDONG SONGO

Candi Gedong Songo merupakan beberapa candi yang berkelompok hingga membentuk sebuah komplek percandian yang merupakan salah satu peninggalan agama Hindu. Lokasi candi ini di desa Candi, kecamatan Bandungan, Jawa Tengah. Secara geografis, letak candi ini berada di koordinat -7.210290, +110.342010, yang berada di ketinggian 1200 m di atas permukaan laut. Lokasi tepatnya di kaki Gunung Ungaran sehingga kesejukkan dapat dirasakan di area ini. Suhunya pun sekitar 19° – 27° Celcius. Letaknya 15 km dari kota Ambarawa dan 45 km dari kota Semarang.
Candi Gedong Songo belum diketahui kapan dibangunnya candi ini hingga sekarang, bahkan para arkeolog pun belum bisa memecahkan problem ini. Sehingga candi ini sampai sekarang masih sering dijadikan sebagai bahan penelitian di bidang arkeologi. Namun, ada beberapa yang berpendapat bahwa candi ini dibangun di masa pemerintahan dinasti Sanjaya Hindu di Jawa yaitu sekitar abad ke-8. Hal ini pun ditinjau dari segi bangunannya dan coraknya.

Bentuk dan relief itu telah dijadikan bukti bahwa candi ini dibangun di masa pemerintahan dinasti Sanjaya. Hal inilah yang menguatkan mereka berpendapat bahwa candi ini di bangun pada abad ke-8. Namun, belum ada yang memastikan bahkan tahun pembangunan candi ini pun belum dikonvensionalkan oleh beberapa ahli.
Candi Gedong Songo yang terletak di area perbukitan ini berfungsi sebagai tempat pemujaan para pemeluk agama Hindu. Konon, telah dipercaya oleh umat Hindu bahwa gunung merupakan tempat para dewa alias khayangan atau surganya para dewa. Sehingga dapat dikatakan bahwa candi ini dapat dijadikan sebagai tempat pemujaan bagi para pemeluk agam Hindu. Selain karena letaknya berada di area perbukitan, candi ini memiliki bentuk yang mirip dengan komplek Candi Dieng. Sehingga bukti inilah yang membuat umat Hindu menjadikan Candi Gedong Songo sebagai tempat pemujaan mereka. Bahkan hingga sekarang Anda akan masih menemukan umat agama Hindu yang sering datang ke Candi Gedong Songo. Apalagi di hari raya umat Hindu seperti hari Raya Nyepi dan lain sebagainya.
Sejarah Candi Gedong Songo mulai dimasukkan ke dalam serajah Nusantara ini sejak tahun 1740 yang telah dikemukakan oleh Sir Thomas Stamford Raffles. Waktu itu, Raffles menemukan 7 buah bangunan berupa candi. Sehingga, dulu candi ini masih memiliki nama sebagai ‘Candi Gedong Pitu’. Kata ‘Gedong’ ini merupakan bahasa Jawa dari ‘Bangunan’ atau ‘Candi’ dan kata ‘Pitu’ berasal dari bahasa Jawa dari ‘Tujuh’.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya di tahun 1908, Van Stein Callenfels yang merupakan seorang arkeolog asal Belanda ini menemukan 2 candi lain di area Candi gedong Songo. Sehingga total candi di area tersebut berjumlah 9. Mulailah candi ini dinamakan sebagai ‘Candi Gedong Songo. Diambil dari kata ‘Songo’ yang berasal dari bahasa Jawa ‘Sembilan’.
Berdasarkan legenda masyarakat setempat, bahwa sejarah Candi Gedong Songo ini merupakan tempatnya Hanoman menimbun Dasamuka atau Rahwana ketika perang memperebutkan Dewi Sinta. Seperti pada kisah Ramayana bahwa Dasamuka menculik Dewi Sinta dari sisi Rama sang suaminya. Karena ingin merebut kembali istrinya tercinta itu, maka terjadilah perang besar untuk merebut kembali Dewi Sinta. Peperangan itu terjadi antara kedua kubu yaitu kubu Dasamuka dan bala tentaranya dengan Rama dan Hanoman yang memimpin pasukan kera.
Dasamuka pun tidak bisa mati walaupun sudah dirajam oleh ratusan senjata tubuhnya yang telah dirajam oleh Rama. Karena kejadian tersebut, maka Hanoman berpikir keras bagaimana caranya untuk mengalahkan Dasamuka. Sehingga muncullah ide untuk mengangkat gunung yang besar dan ditimpalah ke tubuh Dasamuka. Hingga pada akhirnya Dasamuka tertimbun hidup-hidup oleh gunung yang mana gunung tersebut adalah Gunung Ungaran. Dipercaya setelah kejadian tersebut, setiap hari di Gunung Ungaran selalu terdengar rintihan Dasamuka hingga menjadi tempat pemandian air panas seperti yang digunakan sampai sekarang.
Konon, Dasamuka adalah raksasa yang suka minum minuman keras, sehingga ketika ada pengunjung membawa minuman keras di daerah tersebut, maka akan membuat Dasamuka terbangun karena mencium aroma minuman keras. Hal itu ditandai dengan adanya air panas yang semakin panas atau bahkan hingga gempa kecil yang terjadi pada daerah tersebut. Bukan hanya cerita tentang Dasamuka dan Hanoman saja, melainkan juga terdapat cerita lain yang mendasari asal usul terjadinya candi tersebut.
Masyarakat setempat telah mempercayai bahwa Candi Gedong Songo ini terdapat jin atau makhluk ghaib yang bernama Mbah Murdo sebagai penunggu candi. Dan masyarakat setempat pun mempercayai bahwa yang membangun candi ini adalah Ratu Sima sebagai persembahan kepada dewa-dewanya di setiap Ratu Sima mengalami masalah. Setiap Ratu Sima menghadapi masalah, Ratu Sima selalu bersemedi di candi tersebut hingga mendapatkan pencerahan dari para dewa.

CANDI ARJUNA

Candi Arjuna merupakan salah satu candi peninggalan agama hindu yang beraliran Syiwa. Candi ini juga diperkirakan merupakan candi Hindu pertama di Jawa, yang dibanguna pada sekitar Abad ke-7 pada masa pemerintahan kerajaan Mataram Kuno. Selain candi Arjuna banyak sekali peninggalan agama Hindu di Indonesia seperti Candi Prambanan, Candi Jago, Candi Cangkuang, 

Candi Kidal dan masih banyak lagi candi-candi agama Hindu. Candi Arjuna berada di paling ujung dari kompleks candi Arjuna, tepatnya di sebelah utara dan di depanya terdapat candi Semar yang diperkirakan sebagai candi pelengkap atau candi perwara dari Candi Arjuna. Hingga saat ini Candi Arjuna juga masih digunakan sebagai tempat peribadatan bagi masyarakat Dieng. Bahkan di kompleks candi dieng juga diadakan upacara potong rambut anak-anak gimbal yang dipercaya sebagai anak-anak spesial di dataran tinggi dieng. Dimana ruwatan dari upacara ini berada di depan candi Arjuna. 

Candi Arjuna diyakini didirikan sekitar Abad ke-7 Masehi hingga abad ke-9 Masehi. Dimana pembangunan candi Arjuna dilaksanakan pada pemerintahan dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram Kuno, atau bahkan dari kerajaan Kalingga. Dan juga, Candi Arjuna diperkirakan sebagai candi tertua di Jawa. Hal ini ditunjukkan dengan penemuan salah satu prasati di sekitar Candi Arjuna. Dimana dalam prasasti tersebut tertulis tahun 731 Caka atau sekitar tahun 808 Masehi dengan menggunakan aksara Jawa Kuno. Prasasti ini sekarang di simpan di Jakarta, yaitu di Galeri Museum Nasional Jakarta.
Kompleks candi di dieng terutama candi Arjuna ditemukan pertama kali pada abad ke 19 tepatnya di tahun 1814. Dimana ditemukan oleh seorang tentara Belanda yang bernama Thedorf Van Elf. Ketika itu, candi Arjuna masih tergenang air saat Elf menemukanya. Kemudian baru 40 tahun kemudian upaya pemeliharaan candi Arjuna di lakukan, Pemeliharaan ini dimulai dengan mengeringkan air telaga di dieng oleh HC Cornelius yang berkebangsaan inggris, tepatnya pada tahun 1856.
Kemudian dilanjutkan lagi oleh J Van Kirnsberg yang berkebangsaan Belanda dengan dibantu oleh pemerintahan Hindia-Belanda saat itu. Setelah upaya pengeringan telaga dan juga pembersihan selesai,Kemudian Van Kirnsberg mengambil beberapa gambar dan juga catatan mengenai candi Arjuna pada awal penemuan.
Sejarah pembangunan candi Arjuna masih belum bisa dipastikan secara detail, karena sangat minimnya sumber – sumber valid yang menjelaskan mengenai asal mula dari candi arjuna ini. Sejarah Candi Arjuna diawali dengan penemuan sebuah prasasti yang berangka tahun 731 Caka atau tahun 808 Masehi. Prasasti tersebut merupakan prasasti tertua dengan tulisan Jawa Kuno. Dari situ, para ilmuwan menyimpulkan bahwa Candi Arjuna dibangun pada pemerintahan raja-raja Wangsa Sanjaya. Di sekitar kawasan candi arjuna juga ditemukan arca dewa Syiwa yang saat ini di simpan di Museum Nasional Jakarta.
Meskipun begitu, Candi Arjuna diperkirakan dibangun sekitar pertengahan abad ke-7 masehi hingga awal abad ke 9 Masehi. Dimana selain candi Arjuna juga membangunan candi disebelahnya yaitu Candi Srikandi, Candi Semar, dan Candi Gatutkaca. Kemudian, barulah dibangun candi-candi lain di kompleks candi dieng seperti candi Gatutkaca, candi Dwarawati dan Candi Bima yang dilaksanakan pada akhir abad ke-8 Masehi yaitu sekitar tahun 780 Masehi. Dan juga di sekitar candi dieng juga terdapat pemukiman penduduk sekitar abad ke-9 Masehi.
Candi Arjuna terletak di dataran tinggi dieng yaitu berada di ketinggian sekitar 2.093 meter diatas permukaan laut (mdpl). Dimana Dieng merupakan dataran tinggi yang berada di antara dua kabupaten yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun, Candi Arjuna sendiri masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Banjarnegara, tepatnya di desa dieng Kulon, Kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara . Untuk menuju ke kompleks candi Arjuna, anda bisa mengikuti petunjuk jalan menuju candi arjuna yang terpasang hampir di setiap persimpangan jalan. Dan Berikut adalah rute menuju candi Arjuna.

PAKET PIKNIK 1

PAKET PIKNIK 2

PAKET PIKNIK 3

PAKET PIKNIK 4

PAKET PIKNIK 5

PAKET PIKNIK 6

PAKET PIKNIK 7

PAKET PIKNIK 8

PAKET PIKNIK 9

PAKET PIKNIK 10

PAKET PIKNIK 11

PAKET PIKNIK 12

PAKET BEBAS PIKNIK 

PAKET PIKNIK ONLY 100K

Marcus Maye Jersey 
Need Help? Chat with us